Sepotong Kue

Betapa beratinya buat saya untuk ngecek proses dibalik sepotong kue. Mulai bahan pembuatnya, proses membuatnya sampai uang yang digunakan sampai itu keu selesai dan sampai ke hadapan saya.
Seringkali kantor-kantor sini bikin kegiatan dan ada acara makan-makannya. Terkadang saya enggan untuk menyentuh kue ataupun makanan itu. Bukan apa-apa, saya khawatir makanan itu terbeli dengan uang abu-abu yang tidak jelas hukumnya.
Setiap jumat, habis olahraga, pasti kantor menyediakan sarapan, entah itu sekedar bubur kacang hijau ataupun nasi kuning. Dan mungkin saya jadi salah satu yang tidak pernah memakan apapun yang ada di kantor. Kekhawatiran saya dengan hukum kehalalan makanan, karena yang saya pahami tidak ada alokasi dana untuk hal-hal semacam ini, kecuali dari yang abu-abu tadi.
Pernah seorang rekan di seksi saya tiba-tiba keingetan saya belum pernah makan kue Madonna waktu dia bercerita Madonna menjadi kue kesukaannya. Dengan riang dia membawakan saya 3 potong Madonna dari lantai dua kantor. “ini… aku mbawain mbak kue Madonna itu…” melihat ekspresinya, saya nggak tega untuk menolak. Saya memutar otak untuk menjelaskan padanya tentang prinsip saya.
Ah, apa saya akan dianggap terlalu munafik, terlalu sok suci? Pikiran itu berkelebatan.
Biasanya kalau ditawari makanan, saya menolak dan bilang pada yang menawarisecara nggak langsung untuk memberi pada yang lain saja. Berusaha sehalus mungkin bilang sama orang lain. Saya diamkan kue yang dibawakan teman saya itu di meja. Sampai dia mengambilnya satu potong dan dua potong sisanya saya berikan ke rekan yang lain. Yah, aman kali ini.
Pernah sewaktu Prajab saya orasi di depan kelas menumpahkan perasaan saya. Ruangan cukup hening saat diskusi itu berlangsung. Saya hanya mencoba meyakinkan kelas dengan apa yang saya yakini benar dan baik menurut khalayak umum.
Atau pernah juga sewaktu mahasiswa, saya adu debat dengan seorang dosen tentang prinsip saya yang dianggapnya sok idealis. “Saya pernah menjumpai orang sepertin Anda yang begitu idealis saat kuliah, tapi saat sudah bekerja, dia nggak ada bedanya dengan yang lain, bahkan menjadi orang yang paling jado buat nego masalah seperti itu”, kata dosen suatu mata kuliah di STAN dulu. Saya menjawab ringan, “Bapak bisa berbicara seperti itu, tapi jangan jadikan kasus ini menjadi generalisir. Saya yakin masih ada orang di luar sana yang tetap sama idealisnya. Saya tidak tahu mau jadi seperti apa saya di masa depan, tapi saya berusaha untuk tetap sama dengan apa yang saya katakan saat ini.”
Meski berat, meski akan dianggap munafik, meski akan ada yang mengatakan sok suci, saya berusaha berbuat dengan memikirkan pertanggungjawaban saya kelak.

Add comment January 14, 2009 inge-febria

Dalam Doa

Duduk bersimpuh di hadapanMu
Mencoba mendekatiMu, yang terasa jauh…
Sujud memohon ke hadiratMu
Meraih cinta kasihMu, yang kuharap selalu…

Reff :
Mengangkat kedua tanganku meminta pengampunanMu
Bercucuran air mataku mengharap Kau melihat… kesungguhanku
Mencari setitik cahyaMu di kegelapan jiwaku
Bergetar bibirku di saat ku mengucapkan namaMu
Dalam doa…

Semua pinta kuhaturkan padaMu
Semoga Kau mengabulkan semuanya itu
Segala dosa kukatakan padaMu
Semoga Kau mengampuni kelalaianku

Sehingga akan ringan di setiap langkahku
Menjalani hari-hariku yang ku tak pernah tahu
Sampai kapankah?

Back to reff

(Shaffix – Dalam Doa)

Saya lagi suka banget saya lagu yang satu ini. Pagi-pagi sambil nyari teksnya.
Ah, lama rasanya saya tidak merasakan gregetnya saat berdoa. Rasanya saya ini kok lalai akan diri dan lalai pada nikmatNya yang sungguh luar biasa.

Beberapa hari yang lalu, selepas shalat maghrib, si mas ngajakin saya berdoa. Lama… saya merenung… mengahayati doa yang diucapkan…

Buliran air mata yang menggenang satu persatu jatuh.

Lama saya hanya menyimpan keinginan diajak berdoa selepas shalat sama qawwam (suami). Dan baru kali itu tercapai setelah hampir satu setengah tahun kami menikah. Ah, mas… lama nian penantianku padamu untuk diajak duduk bersama berdoa.

Dari dulu tiap saya meminta, si mas bilangnya “besok-besok ya…”. Mungkin karena kultur dan latar belakang kelurga kami yang membedakan. Hingga mungkin si mas sungkan atau nggak pede atau karena apa saya nggak tau.

Saya yang sering menjalankan shalat jamaah di rumah bersama keluarga dilanjutkan ritual selepasnya, cium tangan, cium pipi dan diakhiri dengan berdoa yang dipimpin bapak. Berbeda dengan mertua saya yang kyai, jadi selalu menunaikan shalat wajib di masjid/musholla dan mungkin yang dipimpin lebih banyak (jamaah sholat di masjid), ritual seperti itu hampir tidak ditemukan di keluarga suami saya.

Doa…

Saya sedang introspeksi diri untuk jadi manusia yang lebih baik, yang mencoba selalu mengingat akan segala kenikmatan yang Allah berikan.

Add comment January 14, 2009 inge-febria

Patah Hati

Semalem, mbak miko sms saya, katanya abis baca blog seorang muslimah di multiply, ngabarin salah satu adek kelas ada yang habis diputuskan proses khitbahnya (red : lamarannya).
Saya sempat membalas smsnya miko, hanya uneg-uneg pribadi.
Paginya, selepas sahur, suami saya menyempatkan blogging di MP dan sampai di halaman dek nansa. Ya, dek nansa yang bercerita proses pemberhentian proses khitbah oleh seorang ikhwan.
Terlepas, dari apa yang diceritakan dek nansa yang saya sendiri rasanya kurang sreg, saya turut prihatin. Ah, namanya juga hati. Terkadang seorang perempuan hatinya bisa sedalam samudera, begitu kata-kata di film Titanic.
Khitbah yang sudah lama berlangsung, memunculkan beragam penyikapan. Namanya juga khitbah, ada rasa berharap memadu hati ke jenjang pernikahan, ada mimpi membentuk keluarga atas dasar cintaNya, ada intuisi menjadi seorang ibu, dan ada bayang-bayang lainnya. Tapi, saat khitbah tidak diteruskan, bisa muncul beragam penyikapan pula. Ada yang segera bangkit, ada yang tenggelam dalam keputusasaan, ada yang berlama-lama menyimpan memori pahit, dan ada pula yang berlari mengejar mimpi lainnya.
Ingin rasanya saya mendekap dek nansa saat ini, turut merasakan kegetiran yang diterimanya. Usahlah bersedih berkepanjangan. Barangkali ini yang terbaik, untuk tidak berlama-lama dalam proses khitbah. Kalau belum mantap dan masih banyak aral melintang, cukuplah menyendiri mencari kesucian hati, agar saatnya tiba, bermekaranlah kuncup-kuncup cinta yang memang seharusnya.
Pun saat sudah memasuki pintu khitbah, prinsip utama untuk tidak berkhalwat (berduaan), tidak menyentuh yang belum muhrimnya dan sampai menjaga bersihnya hati. Tak ada yang tahu, setelah khitbah akan sampaikah kita di pintu pernikahan.
Saya juga pernah merasakan apa yang dialami dek nansa. Bedanya saya belum sampai taraf khitbah, baru ta’aruf aja. Ah, saya juga menangis, tapi bukan tangis kehilangannya, toh dia bukan milik saya, tapi sedih karena orang tua saya menangis untuk saya. Orang tua tidak tega putrinya sakit hati, padahal saya ndak sakit hati. He..he… bohong. Sakit hati sih, tapi nggak mendalam, biasa aja.
Selepas itu, saya beli buku yang isinya cukup bagus.
Kalau misalnya ndak jadi nikah, tetap berbaiklah dengan orang itu. Berusaha berlomba-lomba menjadi pribadi yang lebih baik. Biarlah semua berlalu, toh jodoh itu nggak akan tertukar. Sudah ada garisnya kalo saya dapat pemuda shalih yang lemah lembut dan disisi lain tegas dengan prinsipnya.
Patah hati…?! Bangkit dong… harapan itu masih ada

Add comment January 14, 2009 inge-febria

Keluar dari Zona Nyaman

Gimana ya rasanya keluar dari zona nyaman? Zona yang saya maksud disini adalah tempat yang disana kita merasakan suatu nyaman. Semua beredar pada tempatnya dengan rapi. Tempat yang menjadikan kita stabil secara emosi.

Ah, nggak mau bertele-tele. Pokoknya zona nyaman tuh begitu dah…

Dulu dan sampai sekarang saya menganggap bumi jurangmangu adalah salah satu zona ternyaman yang ada. Ingin rasanya berlama-lama ada disana. Bumi inilah yang menjadikan saya rindu. Rindu yang selalu  menggebu.

Alhamdulillah, tanggal 20 ini ada kesempatan mampir ke jurangmangu.

Datang ke tempat baru pasti perlu adaptasi yang luar biasa. Apalagi kalau penempatan dapet tempat yang ndilalah agak jauh dari pulau Jawa. Yang beda budaya, beda kebiasaan, beda bahasa, dan beda adat. Membangun persepsi positif pada apa yang telah Allah berikan untuk kita. Yakin, pasti ada hikmahnya.

Istiqomah (stabil, tetap teguh pendirian) di zona nyaman mungkin akan lebih mudah. Saya salut pada mereka yang istiqomah di luar zona kenyamanan. Semoga saya bisa…

Add comment September 12, 2008 inge-febria

Kenapa Nggak Pakai Cara Rasulullah

Karena banyak yang nulis tentang bekam, saya jadi pengen ikutan mbahas.

Pertengahan Februari tahun ini, saya dapat rujukan dokter penyakit dalam di Ternate ke RS Sardjito Jogja untuk penanganan lebih lanjut dan deteksi lebih akurat dari suatu penyakit.

Sedih banget rasanya, waktu dokter memvonis saya untuk tidak berhenti minum obat selama 2 tahun. Nggak boleh putus. Kalau udah jalan 2 tahun, 6 bulan kemudian dosis obat akan dikurangi sedikit demi sedikit sampai dipaksa dinyatakan sembuh. Meski ada yang 30 tahun berobat, nggak sembuh juga.

Tambah sedih lagi saat dokter tidak mengizinkan saya untuk hamil selama pengobatan karena efek obat yang bisa membahayakan janin.

Mungkin Allah punya rencana lain buat saya yang belum saya ketahui sekarang.

Sekembali dari Jogja, ada yang menyarankan untuk pengobatan herba. Saya pun mencobanya. Yup, pengobatan kembali ke alam. Selain itu, disarankan bekam juga. Alhasil, ada yang berprofesi jadi tukang bekam dadakan.

Alhamdulillah, udah 3 bulan berjalan pengobatan herba dan bekamnya. Udah kelihatan hasilnya lho. Ada perkembangan yang saya rasakan setelah sebelumnya nggak merasa ada perubahan sedikit pun dari obat dokter.

Pernah juga dicoba ruqyah. Jangan-jangan penyakit saya ini akibat gangguan jin. Serem juga pertama kali ditawari ruqyah. Ustadz-nya pas datang nanya, “Mbak takut nggak liat saya?” he…he… biasa aja tuh. Konon kalo ada perasaan takut liat peruqyah, ada jin di dalam tubuh kita.

Trus pak ustadz membaca ayat-ayat ruqyah. Saya masih diem aja, sampai ustadznya berhenti. Saya diminta minum 4 gelas air putih sekaligus. Wedew, padahal sebelum ruqyah saya baru selesai makan, trus di rumah yang dipakai buat ruqyah, saya disuguh minum juga.

Ditunggu reaksinya habis minum air putih itu. Kalau mual berarti ada jinnya. Saya tetep biasa aja, bedanya cuma kembung. Ya iyalah, minum 4 gelas gitu loh.

Dari hasil ruqyah, penyakit saya murni sakit bukan karena gangguan jin. Alhamdulillah….

Jadi, kenapa nggak pakai cara Rasulullah? Bekam jelas banyak khasiatnya. Deteksi dini penyakit dengan ruqyah.

Teringat “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan…?”

1 comment September 12, 2008 inge-febria

Budaya Tabayun

Seringkali kita melihat sesuatu dari kacamata diri sendiri. Bukan tidak mungkin dari penglihatan kita ada yang salah. Masalahnya, kadang ada yang nggak mau mengubah sisi pandangnya yang bisa jadi salah itu. Cuma mau ngingetin diri sendiri aja. Saya ini tipe orang yang melakukan sesuatu dengan tertib. Disiplin mungkin salah satu sebagian dari sisi positif pribadi saya. Dalam bekerja, u can trust me lah, mungkin begitu kali ya. Sering orang melihat saya orang yang workaholic.

Ternyata, dari sikap saya itu, banyak orang yang berpandangan saya tipe orang yang egois, susah bergaul, nggak gampang beradaptasi, serius, lurus-lurus aja, nggak neko-neko, dll.

Jadi menurut saya, orang lain agak segan tiap mau ngajak ngomong saya. Apalagi saya tergolong pendiam saat bertemu lingkungan baru.

Hm…sikap serius ternyata susah hilang dari kebiasaan. Sering saya merasa, Korlak saya yang dua orang itu, yang jarang saya jumpai di kantor, terlihat segan memberi panduan saya untuk bekerja. Mungkin karena nggak enak ngajak ngomong saya yang terlalu serius di depan komputer melahap tumpukan SPT Tahunan yang nggak habis-habis itu. Atau karena nggak ada kerjaan yang membutuhkan panduan. Atau karena hal yang lain yang jelas saya nggak tahu. Entah mengapa.

Ingin sekali saya mencoba tabayun (klarifikasi). Tapi, kok susah ya?!

Padahal tabayun penting banget biar ada titik temu antara dua sudut pandang yang berbeda. Bisa jadi, apa yang saya rasa hanyalah satu sifat melankolis perempuan. Atau memang saya yang harus mengubah semua sifat itu, termasuk sifat yang berkesan serius. Atau memang demikianlah adanya, alias nggak ada apa-apa yang perlu saya khawatirkan.

Jelas-jelas Rasulullah menghendaki agar umatnya mau tabayun (mencari informasi yang benar) atas kejadian yang menimpa saudaranya. Sehingga kelak, tidak timbul fitnah dan pergunjingan. Teringat kisah antara Umar bin Khattab dan Hisyam yang berseteru karena Umar mengira Hisyam berdusta karena salah membaca Al-Qur’an. Menurut Umar Rasulullah tidak pernah mengajarkan mebaca seperti itu. Ternyata Rasulullah bersikap sangat bijak menengahi keduanya. Setelah Hisyam selesai membaca, Rasulullah gantian meminta Umar membaca ayat yang serupa. Rasulullah memastikan Hisyam benar membaca, Umar pun demikian. Tidak ada yang salah antara keduanya. Hanya perbedaan dialek pembacaan saja. Akhirnya… damai deh…

Tabayun… ah indahnya dunia andai tabayun bisa menjadi budaya.

Add comment September 12, 2008 inge-febria

Arti Sebuah Obrolan

Mengobrol…rasanya nggak pernah lepas dari yang satu ini. Dan komunikasi yang paling sering kita lakukan adalah mengobrol.

Mari memperhatikan, apa yang biasanya menjadi bahan obrolan kita. Konon zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang paling sering dibahas adalah “sudah tilawah berapa juz hari ini? Bagaimana dengan qiyyamul lail semalam? Sudahkah memperbaiki ibadah kita?”

Begitulah… nampaknya kalo dibandingkan dengan obrolan sehari-hari, jarang sekali saya membahas hal-hal seperti itu.

Pernah diceritakan pula suatu ketika, seseorang dari Eropa mendatangi kota Isbania (nama kota Spanyol saat umat muslim menguasainya) untuk mencari tahu apa yang menjadi bahasan utama di kota.

Saat sedang berjalan-jalan, ia menjumpai seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu. Kemudian ia menanyakan penyebab anak itu menangis. Dengan kepolosannya, anak kecil itu bercerita bahwa hari ini ia hanya mendapatkan satu burung dari satu anak panahnya. Padahal biasanya dengan satu anak panah ia mendapatkan dua burung sekaligus.

Orang Eropa itu mengambil kesimpulan bahwa orang di Kota Isbania masih berorientasi pada jihad untuk menghabisi musuh dengan peralatan yang efisien. Dan anak kecil itu mendapat imbas dari orang tuanya yang mendidiknya untuk menjadi pemanah tangguh. Maka apabila Eropa akan menyerang kota saat itu, maka kecil kemungkinan untuk menang.

Selang beberapa waktu, orang itu kembali melakukan jajak pendapat di kota yang sama. Ternyata obrolan telah berubah arah. Di pasar yang menjadi bahasan adalah “berapa banyak budak yang kau miliki? Cantikkah ia? Dsb…”

Dari sini, Eropa memulai serangannya. Dan ternyata memang ampuh. Buktinya, setelah itu umat Islam tidak lagi bisa menguasai Spanyol sampai saat ini.

Jadi, bisa diambil hikmahnya, kondisi bangsa ini bisa dilihat dari apa yang menjadi bahan obrolan warga negara yang berdiam di dalamnya. Dan kondisi diri bisa dilihat dari apa yang biasa keluar dari lisan ini.

Ah, rindu rasanya hati ini bersua dengan saudara untuk saling mengingatkan. Rindu diri ini pada masyarakat yang mengerti akan arti obrolannya.

Saudaraku… bagaimana ibadah kita hari ini?

Ditulis ulang dengan bahasa sendiri setelah membaca buku “Membangun Ruh Baru”.

1 comment September 12, 2008 inge-febria

Ramadhan Revolusioner


Continue Reading Add comment September 4, 2008 inge-febria

August Friday


Continue Reading Add comment August 22, 2008 inge-febria

Menulis…


Continue Reading Add comment August 8, 2008 inge-febria

Previous Posts


Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Jan    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts