Arti Sebuah Obrolan
September 12, 2008
inge-febria
Mengobrol…rasanya nggak pernah lepas dari yang satu ini. Dan komunikasi yang paling sering kita lakukan adalah mengobrol.
Mari memperhatikan, apa yang biasanya menjadi bahan obrolan kita. Konon zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang paling sering dibahas adalah “sudah tilawah berapa juz hari ini? Bagaimana dengan qiyyamul lail semalam? Sudahkah memperbaiki ibadah kita?”
Begitulah… nampaknya kalo dibandingkan dengan obrolan sehari-hari, jarang sekali saya membahas hal-hal seperti itu.
Pernah diceritakan pula suatu ketika, seseorang dari Eropa mendatangi kota Isbania (nama kota Spanyol saat umat muslim menguasainya) untuk mencari tahu apa yang menjadi bahasan utama di kota.
Saat sedang berjalan-jalan, ia menjumpai seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu. Kemudian ia menanyakan penyebab anak itu menangis. Dengan kepolosannya, anak kecil itu bercerita bahwa hari ini ia hanya mendapatkan satu burung dari satu anak panahnya. Padahal biasanya dengan satu anak panah ia mendapatkan dua burung sekaligus.
Orang Eropa itu mengambil kesimpulan bahwa orang di Kota Isbania masih berorientasi pada jihad untuk menghabisi musuh dengan peralatan yang efisien. Dan anak kecil itu mendapat imbas dari orang tuanya yang mendidiknya untuk menjadi pemanah tangguh. Maka apabila Eropa akan menyerang kota saat itu, maka kecil kemungkinan untuk menang.
Selang beberapa waktu, orang itu kembali melakukan jajak pendapat di kota yang sama. Ternyata obrolan telah berubah arah. Di pasar yang menjadi bahasan adalah “berapa banyak budak yang kau miliki? Cantikkah ia? Dsb…”
Dari sini, Eropa memulai serangannya. Dan ternyata memang ampuh. Buktinya, setelah itu umat Islam tidak lagi bisa menguasai Spanyol sampai saat ini.
Jadi, bisa diambil hikmahnya, kondisi bangsa ini bisa dilihat dari apa yang menjadi bahan obrolan warga negara yang berdiam di dalamnya. Dan kondisi diri bisa dilihat dari apa yang biasa keluar dari lisan ini.
Ah, rindu rasanya hati ini bersua dengan saudara untuk saling mengingatkan. Rindu diri ini pada masyarakat yang mengerti akan arti obrolannya.
Saudaraku… bagaimana ibadah kita hari ini?
Ditulis ulang dengan bahasa sendiri setelah membaca buku “Membangun Ruh Baru”.
Entry Filed under: Uncategorized
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
1. forex automoney | May 1, 2009 at 9:10 am
I have been searching for this information and finally found it. Thanks!