Budaya Tabayun

September 12, 2008 inge-febria

Seringkali kita melihat sesuatu dari kacamata diri sendiri. Bukan tidak mungkin dari penglihatan kita ada yang salah. Masalahnya, kadang ada yang nggak mau mengubah sisi pandangnya yang bisa jadi salah itu. Cuma mau ngingetin diri sendiri aja. Saya ini tipe orang yang melakukan sesuatu dengan tertib. Disiplin mungkin salah satu sebagian dari sisi positif pribadi saya. Dalam bekerja, u can trust me lah, mungkin begitu kali ya. Sering orang melihat saya orang yang workaholic.

Ternyata, dari sikap saya itu, banyak orang yang berpandangan saya tipe orang yang egois, susah bergaul, nggak gampang beradaptasi, serius, lurus-lurus aja, nggak neko-neko, dll.

Jadi menurut saya, orang lain agak segan tiap mau ngajak ngomong saya. Apalagi saya tergolong pendiam saat bertemu lingkungan baru.

Hm…sikap serius ternyata susah hilang dari kebiasaan. Sering saya merasa, Korlak saya yang dua orang itu, yang jarang saya jumpai di kantor, terlihat segan memberi panduan saya untuk bekerja. Mungkin karena nggak enak ngajak ngomong saya yang terlalu serius di depan komputer melahap tumpukan SPT Tahunan yang nggak habis-habis itu. Atau karena nggak ada kerjaan yang membutuhkan panduan. Atau karena hal yang lain yang jelas saya nggak tahu. Entah mengapa.

Ingin sekali saya mencoba tabayun (klarifikasi). Tapi, kok susah ya?!

Padahal tabayun penting banget biar ada titik temu antara dua sudut pandang yang berbeda. Bisa jadi, apa yang saya rasa hanyalah satu sifat melankolis perempuan. Atau memang saya yang harus mengubah semua sifat itu, termasuk sifat yang berkesan serius. Atau memang demikianlah adanya, alias nggak ada apa-apa yang perlu saya khawatirkan.

Jelas-jelas Rasulullah menghendaki agar umatnya mau tabayun (mencari informasi yang benar) atas kejadian yang menimpa saudaranya. Sehingga kelak, tidak timbul fitnah dan pergunjingan. Teringat kisah antara Umar bin Khattab dan Hisyam yang berseteru karena Umar mengira Hisyam berdusta karena salah membaca Al-Qur’an. Menurut Umar Rasulullah tidak pernah mengajarkan mebaca seperti itu. Ternyata Rasulullah bersikap sangat bijak menengahi keduanya. Setelah Hisyam selesai membaca, Rasulullah gantian meminta Umar membaca ayat yang serupa. Rasulullah memastikan Hisyam benar membaca, Umar pun demikian. Tidak ada yang salah antara keduanya. Hanya perbedaan dialek pembacaan saja. Akhirnya… damai deh…

Tabayun… ah indahnya dunia andai tabayun bisa menjadi budaya.

Entry Filed under: Uncategorized

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed



Pages

Categories

Calendar

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts