Archive for January, 2009
Sepotong Kue
Betapa beratinya buat saya untuk ngecek proses dibalik sepotong kue. Mulai bahan pembuatnya, proses membuatnya sampai uang yang digunakan sampai itu keu selesai dan sampai ke hadapan saya.
Seringkali kantor-kantor sini bikin kegiatan dan ada acara makan-makannya. Terkadang saya enggan untuk menyentuh kue ataupun makanan itu. Bukan apa-apa, saya khawatir makanan itu terbeli dengan uang abu-abu yang tidak jelas hukumnya.
Setiap jumat, habis olahraga, pasti kantor menyediakan sarapan, entah itu sekedar bubur kacang hijau ataupun nasi kuning. Dan mungkin saya jadi salah satu yang tidak pernah memakan apapun yang ada di kantor. Kekhawatiran saya dengan hukum kehalalan makanan, karena yang saya pahami tidak ada alokasi dana untuk hal-hal semacam ini, kecuali dari yang abu-abu tadi.
Pernah seorang rekan di seksi saya tiba-tiba keingetan saya belum pernah makan kue Madonna waktu dia bercerita Madonna menjadi kue kesukaannya. Dengan riang dia membawakan saya 3 potong Madonna dari lantai dua kantor. “ini… aku mbawain mbak kue Madonna itu…” melihat ekspresinya, saya nggak tega untuk menolak. Saya memutar otak untuk menjelaskan padanya tentang prinsip saya.
Ah, apa saya akan dianggap terlalu munafik, terlalu sok suci? Pikiran itu berkelebatan.
Biasanya kalau ditawari makanan, saya menolak dan bilang pada yang menawarisecara nggak langsung untuk memberi pada yang lain saja. Berusaha sehalus mungkin bilang sama orang lain. Saya diamkan kue yang dibawakan teman saya itu di meja. Sampai dia mengambilnya satu potong dan dua potong sisanya saya berikan ke rekan yang lain. Yah, aman kali ini.
Pernah sewaktu Prajab saya orasi di depan kelas menumpahkan perasaan saya. Ruangan cukup hening saat diskusi itu berlangsung. Saya hanya mencoba meyakinkan kelas dengan apa yang saya yakini benar dan baik menurut khalayak umum.
Atau pernah juga sewaktu mahasiswa, saya adu debat dengan seorang dosen tentang prinsip saya yang dianggapnya sok idealis. “Saya pernah menjumpai orang sepertin Anda yang begitu idealis saat kuliah, tapi saat sudah bekerja, dia nggak ada bedanya dengan yang lain, bahkan menjadi orang yang paling jado buat nego masalah seperti itu”, kata dosen suatu mata kuliah di STAN dulu. Saya menjawab ringan, “Bapak bisa berbicara seperti itu, tapi jangan jadikan kasus ini menjadi generalisir. Saya yakin masih ada orang di luar sana yang tetap sama idealisnya. Saya tidak tahu mau jadi seperti apa saya di masa depan, tapi saya berusaha untuk tetap sama dengan apa yang saya katakan saat ini.”
Meski berat, meski akan dianggap munafik, meski akan ada yang mengatakan sok suci, saya berusaha berbuat dengan memikirkan pertanggungjawaban saya kelak.
Add comment January 14, 2009
Dalam Doa
Duduk bersimpuh di hadapanMu
Mencoba mendekatiMu, yang terasa jauh…
Sujud memohon ke hadiratMu
Meraih cinta kasihMu, yang kuharap selalu…
Reff :
Mengangkat kedua tanganku meminta pengampunanMu
Bercucuran air mataku mengharap Kau melihat… kesungguhanku
Mencari setitik cahyaMu di kegelapan jiwaku
Bergetar bibirku di saat ku mengucapkan namaMu
Dalam doa…
Semua pinta kuhaturkan padaMu
Semoga Kau mengabulkan semuanya itu
Segala dosa kukatakan padaMu
Semoga Kau mengampuni kelalaianku
Sehingga akan ringan di setiap langkahku
Menjalani hari-hariku yang ku tak pernah tahu
Sampai kapankah?
Back to reff
(Shaffix – Dalam Doa)
Saya lagi suka banget saya lagu yang satu ini. Pagi-pagi sambil nyari teksnya.
Ah, lama rasanya saya tidak merasakan gregetnya saat berdoa. Rasanya saya ini kok lalai akan diri dan lalai pada nikmatNya yang sungguh luar biasa.
Beberapa hari yang lalu, selepas shalat maghrib, si mas ngajakin saya berdoa. Lama… saya merenung… mengahayati doa yang diucapkan…
Buliran air mata yang menggenang satu persatu jatuh.
Lama saya hanya menyimpan keinginan diajak berdoa selepas shalat sama qawwam (suami). Dan baru kali itu tercapai setelah hampir satu setengah tahun kami menikah. Ah, mas… lama nian penantianku padamu untuk diajak duduk bersama berdoa.
Dari dulu tiap saya meminta, si mas bilangnya “besok-besok ya…”. Mungkin karena kultur dan latar belakang kelurga kami yang membedakan. Hingga mungkin si mas sungkan atau nggak pede atau karena apa saya nggak tau.
Saya yang sering menjalankan shalat jamaah di rumah bersama keluarga dilanjutkan ritual selepasnya, cium tangan, cium pipi dan diakhiri dengan berdoa yang dipimpin bapak. Berbeda dengan mertua saya yang kyai, jadi selalu menunaikan shalat wajib di masjid/musholla dan mungkin yang dipimpin lebih banyak (jamaah sholat di masjid), ritual seperti itu hampir tidak ditemukan di keluarga suami saya.
Doa…
Saya sedang introspeksi diri untuk jadi manusia yang lebih baik, yang mencoba selalu mengingat akan segala kenikmatan yang Allah berikan.
Add comment January 14, 2009
Patah Hati
Semalem, mbak miko sms saya, katanya abis baca blog seorang muslimah di multiply, ngabarin salah satu adek kelas ada yang habis diputuskan proses khitbahnya (red : lamarannya).
Saya sempat membalas smsnya miko, hanya uneg-uneg pribadi.
Paginya, selepas sahur, suami saya menyempatkan blogging di MP dan sampai di halaman dek nansa. Ya, dek nansa yang bercerita proses pemberhentian proses khitbah oleh seorang ikhwan.
Terlepas, dari apa yang diceritakan dek nansa yang saya sendiri rasanya kurang sreg, saya turut prihatin. Ah, namanya juga hati. Terkadang seorang perempuan hatinya bisa sedalam samudera, begitu kata-kata di film Titanic.
Khitbah yang sudah lama berlangsung, memunculkan beragam penyikapan. Namanya juga khitbah, ada rasa berharap memadu hati ke jenjang pernikahan, ada mimpi membentuk keluarga atas dasar cintaNya, ada intuisi menjadi seorang ibu, dan ada bayang-bayang lainnya. Tapi, saat khitbah tidak diteruskan, bisa muncul beragam penyikapan pula. Ada yang segera bangkit, ada yang tenggelam dalam keputusasaan, ada yang berlama-lama menyimpan memori pahit, dan ada pula yang berlari mengejar mimpi lainnya.
Ingin rasanya saya mendekap dek nansa saat ini, turut merasakan kegetiran yang diterimanya. Usahlah bersedih berkepanjangan. Barangkali ini yang terbaik, untuk tidak berlama-lama dalam proses khitbah. Kalau belum mantap dan masih banyak aral melintang, cukuplah menyendiri mencari kesucian hati, agar saatnya tiba, bermekaranlah kuncup-kuncup cinta yang memang seharusnya.
Pun saat sudah memasuki pintu khitbah, prinsip utama untuk tidak berkhalwat (berduaan), tidak menyentuh yang belum muhrimnya dan sampai menjaga bersihnya hati. Tak ada yang tahu, setelah khitbah akan sampaikah kita di pintu pernikahan.
Saya juga pernah merasakan apa yang dialami dek nansa. Bedanya saya belum sampai taraf khitbah, baru ta’aruf aja. Ah, saya juga menangis, tapi bukan tangis kehilangannya, toh dia bukan milik saya, tapi sedih karena orang tua saya menangis untuk saya. Orang tua tidak tega putrinya sakit hati, padahal saya ndak sakit hati. He..he… bohong. Sakit hati sih, tapi nggak mendalam, biasa aja.
Selepas itu, saya beli buku yang isinya cukup bagus.
Kalau misalnya ndak jadi nikah, tetap berbaiklah dengan orang itu. Berusaha berlomba-lomba menjadi pribadi yang lebih baik. Biarlah semua berlalu, toh jodoh itu nggak akan tertukar. Sudah ada garisnya kalo saya dapat pemuda shalih yang lemah lembut dan disisi lain tegas dengan prinsipnya.
Patah hati…?! Bangkit dong… harapan itu masih ada
Add comment January 14, 2009