Patah Hati
January 14, 2009
inge-febria
Semalem, mbak miko sms saya, katanya abis baca blog seorang muslimah di multiply, ngabarin salah satu adek kelas ada yang habis diputuskan proses khitbahnya (red : lamarannya).
Saya sempat membalas smsnya miko, hanya uneg-uneg pribadi.
Paginya, selepas sahur, suami saya menyempatkan blogging di MP dan sampai di halaman dek nansa. Ya, dek nansa yang bercerita proses pemberhentian proses khitbah oleh seorang ikhwan.
Terlepas, dari apa yang diceritakan dek nansa yang saya sendiri rasanya kurang sreg, saya turut prihatin. Ah, namanya juga hati. Terkadang seorang perempuan hatinya bisa sedalam samudera, begitu kata-kata di film Titanic.
Khitbah yang sudah lama berlangsung, memunculkan beragam penyikapan. Namanya juga khitbah, ada rasa berharap memadu hati ke jenjang pernikahan, ada mimpi membentuk keluarga atas dasar cintaNya, ada intuisi menjadi seorang ibu, dan ada bayang-bayang lainnya. Tapi, saat khitbah tidak diteruskan, bisa muncul beragam penyikapan pula. Ada yang segera bangkit, ada yang tenggelam dalam keputusasaan, ada yang berlama-lama menyimpan memori pahit, dan ada pula yang berlari mengejar mimpi lainnya.
Ingin rasanya saya mendekap dek nansa saat ini, turut merasakan kegetiran yang diterimanya. Usahlah bersedih berkepanjangan. Barangkali ini yang terbaik, untuk tidak berlama-lama dalam proses khitbah. Kalau belum mantap dan masih banyak aral melintang, cukuplah menyendiri mencari kesucian hati, agar saatnya tiba, bermekaranlah kuncup-kuncup cinta yang memang seharusnya.
Pun saat sudah memasuki pintu khitbah, prinsip utama untuk tidak berkhalwat (berduaan), tidak menyentuh yang belum muhrimnya dan sampai menjaga bersihnya hati. Tak ada yang tahu, setelah khitbah akan sampaikah kita di pintu pernikahan.
Saya juga pernah merasakan apa yang dialami dek nansa. Bedanya saya belum sampai taraf khitbah, baru ta’aruf aja. Ah, saya juga menangis, tapi bukan tangis kehilangannya, toh dia bukan milik saya, tapi sedih karena orang tua saya menangis untuk saya. Orang tua tidak tega putrinya sakit hati, padahal saya ndak sakit hati. He..he… bohong. Sakit hati sih, tapi nggak mendalam, biasa aja.
Selepas itu, saya beli buku yang isinya cukup bagus.
Kalau misalnya ndak jadi nikah, tetap berbaiklah dengan orang itu. Berusaha berlomba-lomba menjadi pribadi yang lebih baik. Biarlah semua berlalu, toh jodoh itu nggak akan tertukar. Sudah ada garisnya kalo saya dapat pemuda shalih yang lemah lembut dan disisi lain tegas dengan prinsipnya.
Patah hati…?! Bangkit dong… harapan itu masih ada
Entry Filed under: Uncategorized
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed