Sepotong Kue
January 14, 2009
inge-febria
Betapa beratinya buat saya untuk ngecek proses dibalik sepotong kue. Mulai bahan pembuatnya, proses membuatnya sampai uang yang digunakan sampai itu keu selesai dan sampai ke hadapan saya.
Seringkali kantor-kantor sini bikin kegiatan dan ada acara makan-makannya. Terkadang saya enggan untuk menyentuh kue ataupun makanan itu. Bukan apa-apa, saya khawatir makanan itu terbeli dengan uang abu-abu yang tidak jelas hukumnya.
Setiap jumat, habis olahraga, pasti kantor menyediakan sarapan, entah itu sekedar bubur kacang hijau ataupun nasi kuning. Dan mungkin saya jadi salah satu yang tidak pernah memakan apapun yang ada di kantor. Kekhawatiran saya dengan hukum kehalalan makanan, karena yang saya pahami tidak ada alokasi dana untuk hal-hal semacam ini, kecuali dari yang abu-abu tadi.
Pernah seorang rekan di seksi saya tiba-tiba keingetan saya belum pernah makan kue Madonna waktu dia bercerita Madonna menjadi kue kesukaannya. Dengan riang dia membawakan saya 3 potong Madonna dari lantai dua kantor. “ini… aku mbawain mbak kue Madonna itu…” melihat ekspresinya, saya nggak tega untuk menolak. Saya memutar otak untuk menjelaskan padanya tentang prinsip saya.
Ah, apa saya akan dianggap terlalu munafik, terlalu sok suci? Pikiran itu berkelebatan.
Biasanya kalau ditawari makanan, saya menolak dan bilang pada yang menawarisecara nggak langsung untuk memberi pada yang lain saja. Berusaha sehalus mungkin bilang sama orang lain. Saya diamkan kue yang dibawakan teman saya itu di meja. Sampai dia mengambilnya satu potong dan dua potong sisanya saya berikan ke rekan yang lain. Yah, aman kali ini.
Pernah sewaktu Prajab saya orasi di depan kelas menumpahkan perasaan saya. Ruangan cukup hening saat diskusi itu berlangsung. Saya hanya mencoba meyakinkan kelas dengan apa yang saya yakini benar dan baik menurut khalayak umum.
Atau pernah juga sewaktu mahasiswa, saya adu debat dengan seorang dosen tentang prinsip saya yang dianggapnya sok idealis. “Saya pernah menjumpai orang sepertin Anda yang begitu idealis saat kuliah, tapi saat sudah bekerja, dia nggak ada bedanya dengan yang lain, bahkan menjadi orang yang paling jado buat nego masalah seperti itu”, kata dosen suatu mata kuliah di STAN dulu. Saya menjawab ringan, “Bapak bisa berbicara seperti itu, tapi jangan jadikan kasus ini menjadi generalisir. Saya yakin masih ada orang di luar sana yang tetap sama idealisnya. Saya tidak tahu mau jadi seperti apa saya di masa depan, tapi saya berusaha untuk tetap sama dengan apa yang saya katakan saat ini.”
Meski berat, meski akan dianggap munafik, meski akan ada yang mengatakan sok suci, saya berusaha berbuat dengan memikirkan pertanggungjawaban saya kelak.
Entry Filed under: Uncategorized
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed